Pertengkaran Terakhir
Hari ini tepat satu bulan Vina dan Rania berseteru. Padahal
mereka berada dalam satu kelas, juga satu kelompok tugas. Baik Vina maupun
Rania mereka tidak ada yang mau mengalah. Salah satu dari mereka tidak ada yang
mau meminta maaf. Mereka sudah terpengaruhi oleh rasa gengsi dan rasa benci. Yang
dulunya selalu bersama kemana – mana sekarang pisah. Yang dulunya bercanda tawa
bersama sekarang kalau bertemu pada diam – diaman. Tidak ada kata sapaan canda
tawa diantara mereka sekarang. Rasa benci yang sudah tumbuh pada diri mereka
yang membuat mereka seperti ini. Persahabatan yang mereka jalani selama dua
tahun rusak karena hal sepele
Tepat satu bulan yang lalu,Vina dan Rania mengikuti
sebuah kontes pemilihan duta anti narkoba di sekolah mereka. Awalnya hanya Vina
yang mengikuti kompetisi itu. Namun ia merasa kesepian di kompetensi itu
akhirnya mengajak Rania dan Rania menyetujuinya. Dalam lomba itu mereka disuruh
untuk membuat sebuah teks pidato tentang narkoba. Rania mengajak Vina untuk
mengerjakan bersama di sebuah kafe di depan sekolah mereka. “Vin gimana kalau
kita mengerjakan pidato ini bersama – sama?” ujar Rania. “Boleh, bagaimana
kalau kita mengerjakannya sepulang sekolah, di kafe depan sekolah itu?” jawab
Vina.
Sepulang sekolah mereka bersama – sama pergi ke kafe
depan sekolah mereka. Di kafe ini sangat ramai pengunjungnya karena kafe ini
baru buka dua hari yang lalu. Desain interior kafe ini juga instagramable untuk nongkrong anak muda
jaman sekarang. Mereka memesan dua minuman dan beberapa camilan untuk menemani
mereka mengerjakan pidato mereka. Rania langsung mengerjakan tugas pidatonya
dan menulisnya di sebuah kertas. Sedangkan Vina yang memang dikenal pemalas ia
hanya memainkan gadget-Nya. Rania
yang melihat itu segera menegurnya. “Vina ayolah kerjakan teks pidatomu itu
jangan bermain game saja.” Ujar Rania. “Ah…Ran tidak usah dipikir berat –
berat, nanti aku suruh bundaku membuatkannya pasti hasilnya lebih bagus.” Jawab
Vina. “Yasudah terserah kamu saja, aku sudah hampir selesai. Aku mau ke toilet
dulu.” kata Vina.
Setelah
Rania pergi ke toilet Vina melihat teks pidato Rania dan memfotonya,
“Selesaikan teks pidatoku gampang banget punya teman kayak dia bias ku manfaatin.”
Batin Vina didalam hati. Lalu Rania kembali lagi dan mereka berdua akhirnya
pulang kerumah mereka. Setelah sampai rumah Vina menghubungi Rania, “Ran pidato
ku sudah selesai bagus banget deh buatan bundaku, semoga kita bisa menampilkan
yang terbaik besok.” Ujar Vina ditelepon. “Wahh… iya aku juga berharap begitu
yasudah ya selamat malam.” tutup Rania.
Keesokan
harinya semua peserta duta anti narkoba berkumpul di aula termasuk Vina dan
Rania. Satu – satu peserta mulai tampil dan tak lama kemudian giliran Vina yang
tampil. Vina menaiki panggung dan membacakan teks pidatonya tersebut. Sungguh
terkejut Rania karena teks pidato yang dibacakan Vina sama persis dengan
punyanya. Setelah Vina selesai terdengar gemuruh tepuk tangan dari para juri.
Dan sekarang giliran Rania untuk tampil. Rania tampak gugup menyampaikan
pidatonya dan ia mengganti semua isi teks pidatonya dengan bahasanya sendiri.
Ditengah – tengah pidatonya, “Semangat Rania kamu pasti bisa,” ucap Vina dan
hanya dibalas senyuman oleh Rania.
Setelah
semua peserta tampil sekarang saatnya pengumuman siapa yang akan mewakili
sekolah. “Dalam sebuah kompetensi pasti ada yang menang dan ada yang kalah,”
ucap salah satu juri tersebut, “Jadi kalah atau menang itu sama saja yang
penting adalah kalian sudah berusaha menjadi yang terbaik.” lanjutnya. “Oke
saya mewakili tim dewan juri akan menunjuk tiga pemenang dan yang akan mewakili
sekolah kita yaitu yang pertama Rania Putri Salsabila, Verenada Stepia dan
Faiza Nur Widya selamat kepada kalian yang terpilih semoga bisa melaksanakan
tugas yang diberi oleh sekolah.” Ucap Juri tersebut.
Vina
duduk termenung di taman belakang sekolah. “Kacau…semua rencana ku kacau gara –
gara Rania.” Ucap Vina frustasi. Beberapa menit kemudian Rania datang dengan
membawa susu coklat kesukaan Vina. “Nih, aku beliin susu coklat kesukaanmu
jangan menyerah kalau kalah juga jangan frustasi tahun depan bisa kok ikut
lagi.” Ujar Rania dengan memberikan susu coklat. Tetapi tidak diterima oleh
Vina melainkan dibuang ditempat sampah yang ada disampinynya. “Bilang aja kamu
kesini mau ngejek aku iya kan, dulu gelar duta anti narkoba itu punyaku
sekarang kamu rebut puas kamu, dan aku benci sama kamu.” Ucap Vina lalu
meninggalkan Rania sendiri.
Sejak
saat itu sampai sekarang Vina sudah tidak mau lagi berteman dengan Rania. Ia
sekarang memiliki teman baru bernama Veren. Setiap kali berjumpa dengan Rania,
ia selalu menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Rania. Bahkan sering kali ia
dan Veren membully Rania karena masalah pemilihan duta anti narkoba di sosial
media mereka. Bahkan mereka tak sungkan untuk memperlakukan kasar Rania di
kelas.
Sudah
berkali kali Rania mengirim surat permintaan maaf kepada Vina tetapi tidak ada
satupun yang dibaca oleh Vina. Sampai suatu saat Rania sudah muak dengan ini
semua ia berniat untuk menemui Vina. Ia dan Vina berjanjian untuk bertemu di
kafe depan sekolah. Sepulang sekolah ia langsung memberesi buku – bukunya
dengan cepat karena ia ingin sekali bertemu Vina untuk menyelesaikan masalahnya.
Ia langsung bergegas ke depan sekolah dan menyeberang tanpa menengok ke kanan
dank e kiri. Dan pada saat bersamaan ada sebuah mobil yang melaju cepat
dihadapannya lalu menabraknya.
Vina
yang dari tadi sudah menunggu Rania yang tak kunjung datang – datang. “Ini
Rania kemana dulu sih, lelet banget.” Batin Vina didalam hati. Akhirnya ia
memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Setelah sampai dirumah ia mendengar
teleponnya berdering dan segera mengangkatnya. “Halo ini siapa?” kata Vina,
“Ini tante Vina kamu bisa ke rumah sakit sekarang, Rania kecelakaan keadaanya
kritis sekarang!” ucap orang yang diketahui Vina adalah ibunda Rania. Ia syok
dan langsung mengganti pakaiannya lalu pergi ke rumah sakit.
Setelah
Vina sampai dirumah sakit dan ia langsung mencari ruangan Rania. Setelah menemukannya
Vina bingung karena semua yang ada disana menangis entah karena apa Vina tidak
mengetahuinya. Ia segera menemui Ibunda Rania. “Tante dimana Rania, ini kenapa
pada nangis semua?” Tanya Vina, “Vina…Rania sudah tenang disana Vina.” Jawab
Ibunda Rania. “Apa maksud tante, tante bohong kan?” ucap Vina. “Enggak Vina ayo
siap – siap buat pemakaman Rania.” Ujar Ibunda Rania.
Disinilah
Vina sekarang disebuah tempat peristirahatan terakhir sahabatnya. Sahabat yang
sudah ia lukai perasaannya belakangan ini. Padahal sahabatnya inilah yang sudah
mau mendengarkan semua keluh kesahnya. Bahkan ia kehilangan sahabatnya bukan
hanya satu bulan pergi tapi untuk selamanya. Bahkan ia tak percaya Rania akan
meninggalkannya secepat ini. “Ran maafin aku, maafin aku.” Ujar Vina. “Yang
seharusnya marah itu kamu bukan aku, aku yang sudah nyontek teks pidato kamu
Rann, maafin aku Rann.” Ucap Vina sambil menangis bersedu – sedu. “Udahlah Vin
jangan nangis lagi, sekarang Rania udah gak ada dan sekarang artinya posisi
duta anti narkoba sekolah ada ditangan kamu.” Ucap Veren yang ada disebelahnya.
“Cukup
ren aku sudah tidak berminat akan itu dan tolong tinggalin aku sendirian
disini.” Jawab Vina dengan sedikit penegasan dan akhirnya Veren meninggalkan
Vina sendiri. Setelah beberapa lama Ibunda Rania datang membawa sebuah surat.
“Vina ini ada titipan surat dari Rania, dia setiap hari selalu curhat tentang
kamu sama tante, tolong baca dan simpan baik – baik surat ini.” Ujar Ibunda
Rania sambil memberikan surat. Vina membuka lipatan kertas itu dan membacanya
dalam hati.
“Hai
kamu, tak kusangka persahabatan kita melewati hari hari yang tak hanya suka ria
tetapi juga duka lara. Terjal Berliku, tak jarang kita berbeda pendapat, beradu
argumen, dan tau malah saling mencibir. Tak kusangka persahabatan kita sudah
sangat lama kita jalani. Aku ingin bercerita sejenak tentang kita, Mengenang
cerita yang mewarnai persahabatan kita. Pernah suatu ketika ada sikapku yang
tak berkenan dihadapanmu, kamu seketika menjauh dan berubah. Aku tak mengerti kenapa
kau semarah ini padaku soal jabatan duta itu. Kala itu aku tak menyangka,
kemarahanmu begitu hebat terhadapku.
Kamu
yang biasanya mengomel hebat tiba – tiba diam bahkan menghindariku. Dari
situlah aku sadar, kamu benar – benar marah. Aku meminta maaf penuh penyesalan,
tetapi tak kamu gubris sedikitpun bahkan sosial mediaku kamu hapus sepenuhnya.
Aku bingung harus menebus salahku bagaimana, sebab waktu tak mungkin mundur ke
saat dimana aku berkompetensi denganmu. Ternyata bertengkar denganmu itu lebih membuatku frustasi. Hari – hari dimana aku dan kamu tak sapaan
adalah hari-hari yang sangat
menyedihkan. Melelahkan. Bagaimana tidak? Kita satu kelas, dan tak ada tegur
sapa sedikit pun. Seperti orang yang tak pernah mengenal. Kadang aku berpikir,
seberapa besar salahku, sampai kamu tak mau sedikitpun melihatku.
Disaat kau bercanda tawa dengan
teman barumu itu yang membuatku sedih. Disaat kau membully ku, menjelek –
jelekkanku dengan kawan barumu. Hatiku sangat sakit Segala cara sudah kutempuh untuk
meminta maafmu, tetapi ternyata tak ada balasan sama sekali. Aku kecewa,
ternyata kamu sekeras itu. Tetapi aku harus terima.Dan cara terakhir adalah merelakan
sikapmu dan membiarkanmu pergi dengan kebencian yang kamu bawa tentangku. Dari
Rania untuk Vina sahabatku tercinta.”
Setelah membaca surat dari Rania ia
sangat merasa bersalah dan dia berjanji kepada Rania yang sudah tenang disana.
Ia tidak akan mengulanginya lagi ia berjanji akan lebih mengutamakan
persahabatan dari pada harta maupun tahta. Jangankan kau dengki atau pun iri
dengan keberhasilan orang lain, karena kedengkian akan menimbulkan suatu
kebencian yang akan berakhir pada kemarahan, dan kemarahan yang besar akan
berakhir pada suatu penyesalan.
tugas AULIA PUTRI IX-G/04